Kalau kamu anak era 2000-an , pasti nggak asing lagi sama Permen Pendekar Biru. Permen mungil berbungkus biru ini bukan cuma camilan, tapi juga bagian dari memori masa kecil yang sulit dilupakan. Dulu harganya cuma 100 rupiah. Sekarang sudah naik jadi 500 rupiah, tapi yang bikin salut: rasanya tetap sama dan masih digemari banyak orang dari dulu sampai sekarang.
Nah, dalam kegiatan pelatihan Digital Marketing yang digelar oleh BLK Agam di Surau Kakbah Inyiak Tuah, aku dan teman-teman dapat kesempatan untuk mempromosikan produk lokal. Kami memilih Permen Pendekar Biru—bukan karena viral, bukan karena hits, tapi karena punya cerita dan kedekatan personal.
Surau bukan tempat yang biasa dipakai buat bikin promosi produk. Tapi justru di sanalah kami mencoba sesuatu yang berbeda. Kami ambil beberapa foto permen di spot-spot sekitar surau , sampai di tangan teman yang lagi duduk santai. Hasilnya? Sederhana, tapi punya suasana yang hangat dan jujur. Karena produk ini memang berasal dari kehidupan sehari-hari, bukan dari studio mahal.
Yang kami promosikan bukan hanya bentuk dan rasa permen, tapi juga nilai kenangannya. Permen ini bukan sekadar manis di lidah, tapi juga manis di hati, karena mengingatkan kita pada masa-masa sekolah dasar, uang jajan receh, atau momen dikasih permen waktu selesai mengaji.
Walaupun zaman sudah berubah, ternyata permen ini masih punya tempat di hati banyak orang. Di warung-warung kecil, masih sering dijual. Anak-anak sekarang pun tetap suka. Bahkan orang dewasa pun nggak segan beli satu dua biji cuma buat nostalgia.
Melalui kegiatan ini, aku belajar kalau promosi itu nggak melulu soal tren dan viral-viral-an. Terkadang, cukup dengan kejujuran, niat baik, dan cara sederhana, produk yang kecil pun bisa terlihat besar. Apalagi kalau dibarengi dengan tempat yang punya nilai—seperti surau, yang jadi saksi banyak cerita hidup masyarakat dari masa ke masa.
Kegiatan ini juga bikin aku makin sadar, bahwa produk lokal seperti Permen Pendekar Biru layak untuk terus diperkenalkan. Nggak harus dengan cara yang ribet atau mahal. Asal kita punya niat untuk mengenalkan kembali, dan tahu nilai apa yang ingin disampaikan, semuanya bisa jadi promosi yang menyentuh.
Jadi, buat kamu yang nemu permen ini di warung, coba beli satu dan nikmati perlahan. Rasanya nggak cuma manis di mulut, tapi juga membawa pulang banyak kenangan. Dan siapa tahu, lewat hal sesederhana ini, kita bisa ikut menjaga dan menghidupkan kembali warisan kecil yang punya makna besar.



shareloc editornya
BalasHapuspermen masa kecil, bikin lidah biru
BalasHapus