Saya mulai menyulam saat usia saya baru 10 tahun. Saat itu, bukan karena saya sudah pandai atau punya mimpi besar. Saya menyulam karena ingin membantu ibu. Ibu saya menerima banyak pesanan sulaman tangan saat itu, dan saya tak tahan melihatnya kewalahan. Dari situlah, jari-jari kecil saya mulai belajar memainkan jarum dan benang, satu demi satu tusukan, penuh hati-hati.
Tanpa saya sadari, dari kegiatan yang awalnya hanya sekadar membantu, saya mulai jatuh cinta. Apalagi ketika saya tahu, dari sulaman ini, saya bisa mendapatkan uang jajan sendiri. Saya merasa bangga bisa sedikit meringankan beban orang tua dalam biaya sekolah. Sejak usia 14 tahun, saya mulai serius menerima jasa sulaman tangan. Saat teman-teman sebaya sibuk bermain, saya sibuk menyulam dan saya bahagia melakukannya.
Saya terus mengasah kemampuan saya. Ketika saya mendengar ada pelatihan dari Balai Diklat Industri (BDI) Padang, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tahun 2021, saat libur semester 4 kuliah, saya mengikuti pelatihan sulaman suji caia di Pasar Agro Koto Hilalang selama 15 hari. Alhamdulillah, saya dinyatakan kompeten. Ini menjadi titik balik saya. Saya semakin yakin, sulaman tangan bukan sekadar hobi, tapi jalan hidup saya.
Saya terus belajar. Saya pelajari sulaman terawang, sulaman bayang, hingga sulam timbul. Saya belajar dari para instruktur yang saya temui di pelatihan. Hingga akhirnya, dua bulan setelah lulus kuliah pada 2023, saya diberi kepercayaan menjadi asisten instruktur sulaman tangan oleh BDI Padang di Lubuk Basung. Tak berhenti di situ, beberapa bulan kemudian saya dipercaya kembali untuk menjadi instruktur pelatihan sulam tangan di Palembang selama 15 hari. Dari murid, saya menjadi pengajar dan itu adalah momen paling membanggakan dalam hidup saya.
Sekarang, saya menerima jasa sulaman tangan secara penuh. Mulai dari sulaman terawang, sulaman bayang, hingga sulaman suji, saya kerjakan dengan penuh ketelitian dan cinta. Saya tahu, sulaman bukan hanya soal indahnya motif, tapi juga tentang menjaga warisan budaya, khususnya warisan Minang yang sangat kaya dan bermakna.
Melalui usaha ini, saya tak hanya mencari penghasilan, tapi juga bertekad melestarikan seni sulaman tangan yang sudah mulai jarang diminati anak muda. Saya ingin usaha ini tumbuh, berkembang, dan menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang sedang mencari arah hidup. Karena saya percaya, dari hal sederhana seperti sehelai benang, kita bisa merajut harapan besar.


